
( Sumber : Pinterest )
A. Pengertian
Desain Pekerjaan
Desain
pekerjaan merupakan salah satu komponen penting dalam manajemen sumber daya
manusia. Desain pekerjaan atau biasa disebut dengan rencana kerja merupakan
fungsi penetapan kegiatan-kegiatan individu atau kelompok karyawan dalam wadah
organisasi. Desain pekerjaan merupakan jembatan atau penghubung antara karyawan
dengan organisasi. Dalam mendesain suatu pekerjaan hendaknya memperhatikan
hubungan antar teknologi dengan manusia, selain itu juga harus dapat
memfasilitasi pencapaian tujuan perusahaan serta mengetahui kapasitas dan
kebutuhan karyawan yang melaksanakan tugas tersebut. Inti dalam desain
pekerjaan adalah bagaimana membuat semua pekerjaan yang ada disusun secara
sistematis. Desain pekerjaan membantu dalam menjelaskan pekerjaan apa yang
harus dikerjakan, bagaimana mengerjakan pekerjaan tersebut, berapa banyak
pekerjaan yang harus dilakukan dan bagaimana ketentuan yang harus dijalankan
sehingga pekerjaan tersebut dapat diselesaikan.
B. Tujuan
Desain Pekerjaan
Tujuan desain pekerjaan secara
umum adalah untuk penugasan kerja yang memenuhi kebutuhan perusahaan, teknologi
dan perilaku. Dengan demikian dari sudut pandang personalia, desain pekerjaan
sangat mempengaruhi kualitas kehidupan kerja, dimana hal ini tercermin pada
kepuasan kerja para karyawan yang memegang jabatan tersebut. Atas dasar pentingnya peranan
yang dimainkan oleh desain pekerjaan dalam kualitas dan kepuasan kerja, maka
sangat dibutuhkan analisis pekerjaan. Analisis pekerjaan secara sistematis
mengumpulkan, mengevaluasi dan mengorganisasi informasi tentang
pekerjaan-pekerjaan. Dari informasi yang dihasilkan oleh analisis pekerjaan
akan disusun atau diadakan desain pekerjaan yang sesuai dengan pekerjaan,
tujuan dan jenis usaha yang dijalankan oleh perusahaan.
C. Elemen-elemen
Desain Pekerjaan.
1. Elemen organisasional
Elemen-elemen organisasional pada
desain pekerjaan bersangkutan dengan efisiensi. Pekerjaan-pekerjaan yang
dirancang secara efisien. Kemudian mendorong karyawan yang mampu dan
termotivasi untuk mencapai keluaran maksimum. Elemen-elemen organisasional
mencakup pendekatan mekanistik, aliran kerja, dan praktek-praktek kerja.
2. Elemen lingkungan
Aspek kedua desain pekerjaan
berkaitan dengan elemen-elemen lingkungan. Seperti hampir dalam semua kegiatan
personalia, para perancang pekerjaan tidak dapat mengabaikan pengaruh
lingkungan eksternal. Elemen-elemen lingkungan pokok
dalam perancangan pekerjaan-pekerjaan adalah
kemampuan dan tersedianya karyawan potensial, dan
pengharapan-pengharapan sosial.
3. Elemen keperilakuan
Ada beberapa elemen keprilakuan
yang perlu dipertimbangkan dalam desain pekerjaan yaitu :
1. Otonomi yang berarti
mempunyai tanggung jawab atas apa dilakukan.
2. Variasi yang apabila
kurangnya variasi pekerjaan maka akan menimbulkan kebosanan, selanjutnya menimbulkan kelelahan sehingga timbul kesalahan-kesalahan
3. Identitas tugas, bila pekerjaan
tidak mempunyai identitas menimbulkan karyawan kurang tanggung jawab atau
kurang puas atas hasil pekerjaannya
4. Umpan balik, bila
pekerjan memberikan umpan balik atas seberapa baik pekerjaan maka karyawan
termotivasi untuk melaksanakan dengan baik[4]
D. Pengertian
Analisis Pekerjaan
Analisis pekerjaan adalah menepatkan orang yang
tepat pada suatu pekerjaan tertentu, sesuai dengan kemampuan,keahlian dan
pengalaman dalam melakukan suatu pekerjaan. Pada hakikatnya semua orang
menduduki jabatan manajerial atau pejabat negara sekalipun adalah sumber daya
manusia juga. Berarti dalam suatu organisasi atau negara diperlukan keberadaan
sekelompok orang-orang analisis pekerjaan yang bertugas melakukan analisis
terhadap suatu atau semua pekerjaan yang ada.
Menurut Siagian (2000) pengertian
analisis pekerjaan adalah usaha sistematik dalam
mengumpulkan, menilai dan mengorganisasikan senua jenis pekerjaan yang terdapat
dalam suatu organisasi.
Menurut Flippo (2000) analisis
pekerjaan adalah proses mempelajari dan mengumpulkan informasi yang berhubungan
dengan operasi dan tanggung jawab suatu pekerjaan tertentu. Dengan demikian ada
hubungan yang erat antara desain pekerjaan dengan analisis pekerjaan. Tanpa
analisis pekerjaan maka tidak akan dapat mengadakan desain pekerjaan. Analisis
pekerjaan sangat dibutuhkan dalam mendesain pekerjaan di dalam perusahaan.
Analisis pekerjaan merupakan
proses pengumpulan informasi mengenai suatu pekerjaan yang dilakukan oleh
seorang pekerja, yang dilaksanakan dengan cara mengmati atau mengadakan
interview terhadap pekerja, dengan bukti-bukti yang benar dari
supervisor.
E, Tujuan
Analisis Pekerjaan
Menurut Sastrohadiwirjo mengatakan bahwa tujuan
analisis pekerjaan yaitu:
1. Memperoleh tenaga kerja pada posisi yang tepat
2. Memberikan kepuasan pada diri tenaga kerja
3. menciptakan iklim dan kondisi kerja yang
kondusif
Tindakan-tindakan yang diperlukan oleh
managemen SDM untuk mencapai tujuan yang didasarkan pada informassi analisi
pekerjaan adalah :
1. Evaluasi peran lingkungan terhadap pekerjaan
individu.
2. Kaji kembali kemungkinan ada
persyaratan kerja yang usang.
3. Ciptakan peraturan yang dapat menguntugkan
semua pihak.
4. Rancang kebutuhan SDM masa depan.
5. Sesuaikan antara jumlah pelamar dan pekerjaan
yang tersedia.
6. Rancang kebutuhan pendidikan dan pelatihan
untuk karyawan baru maupun karyawan yang sudah berpengalaman.
7. Rancang rencana pengembangan potensi karyawan.
8. Tentukan standar kerja/prestasi yang realistis.
9. Penempatan karyawan hendaknya sesuai dengan
minatnya.
10. Penempatan karyawan sesuai dengan ahlinya.
11. Berikan kompensasi secara wajar.
Menurut Gomes (2003;92) Ada 12 tujuan analisis
pekerjaan yang digunakan oleh sektor publik maupun sektor swasta, yaitu:
1. Job description, yaitu untuk
mengidentifikasikan pekerjaan, riwayat pekerjaan, kewajiban-kewajiban
pekerjaan, dan pertanggung jawaban, serta untuk mengetahui spesifikasi
pekerjaan atau informasi mengenai standar pekerjaan.
2. Job classification, yaitu penyusunan
pekerjaan-pekerjaan kedalam kelas-kelas, kelompok-kelompok, atau jenis-jenis
berdasarkan rencana sistematika tertentu
3. Job evaluation, yaitu suatu prosedur
pengklasifikasian pekerjaan berdasarkan kegunaan masing-masing di dalam
organisasi dan dalam pasar tenaga kerja luar yang terikat
4. Job desinng restructuring, yaitu meliputi
usaha-usaha untuk mengalokasikan dan merestrukturisasi kegiatan pekerjaan
kedalam berbagai kelompok
5. Personel requirement, yaitu berupa
persyaratan atau spesifikasi tertentu bagi suatu pekerjaan
6. Performance appraisal, yaitu merupakan
penilaian sistematis yang dilakukan oleh supervisor terhadap performansi
pekerjaan dari para pekerja
7. Worker training, yaitu pelatihan yang ditujukan
kapada para pekerja
8. Worker mobility, yaitu dinamika keluar-masuknya
seseorang dalam posisi, perkerjaan-pekerjaan, dan okupasi-okupasi tertentu
9. Efficiency, ini mencangkup penggabungan proses
kerja yang optimal dan rancangan keamanan dari peralatan dan fasilitas, serta
prosedur kerja, susunan kerja dan standar kerja
10. Safety, berfokus pada identifikasi dan
peniadaan perilaku kerja yang tidak aman, kondisi fisik dan kondisi lingkungan
11. Human resource planning, kegiatan antisipasi
dan reaktif melalui suatu organisasi
F. Langkah-Langkah
Utama Dalam Analis Pekerjaan
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam
analisis jabatan.:
1. Tentukan lebih dulu tugas-tugas pokok yang
harus ada dalam jabatan itu, termasuk didalamnya perilaku dan aktivitas yang
melekat pada jabatan itu.
2. Mengidentifikasi knowledge, abilities,
skills, dan other characteristics
(KASOCs) yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas-tugas itu.
a. Knowledge
berarti seperangkat informasi yang ada di dalam prosedur yang harus diterapkan
dalam pekerjaan itu.
b.
Abilities berarti kompetensi untuk menghasilkan hasil yang bisa diamati.
Misalnya: kemampuan seorang pengetik yang baik adalah menghasilkan ketikan yang
rapi dan tidak banyak salahnya.
c. Skill berarti
kompetensi untuk melakukan tindakan yang bisa dipelajari, baik yang sifatnya
motorik, verbal, manual, atau melakukan pengolahan mental yang menyangkut data,
orang atau barang.
d. Other
characteristics meliputi faktor kepribadian, sikap, atau watak yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Laporan analisa jabatan untuk seorang
perwira patroli jalan raya mungkin berupa pengetahuan hukum, komunikasi lisan yang
baik, kemampuan menyopir yang trampil, dan keterandalan untuk melaksanakan
tugasnya dengan cukup baik.[6]
G. Jenis Analisis
Pekerjaan
1. Analisis Pekerjaan Tradisional (Traditional Job
Analysis)
Model tradisional ini hanya mencari informasi
sekitar tiga aspek, antara lain tanggung jawab yang merinci unit organisasi
kepada mana suatu kedudukan harus bertanggung jawab, harus tunduk kepada
pengarahan dan bagian pelaksanaan, kewajiban-kewajiban umum dari seseorang yang
sedang memegang suatu kedudukan, kualifikasi-kualifikasi minimal yang diterima
sebagai kelayakan.
2. Analisis Pekerjaan yang beroreientasi
hasil (Ersult-oriented Jobs Description atau RODS)
Analisis pekerjaan yang berorientasikan hasil
ini merupakan suatu kehidupan kecil di dalam program-oriented budget yang
bermanfaat bagi produktivitas.[7]
Analisis pekerjaan jenis ini berasumsi bahwa uraian
pekerjaan akan menjadi lebih bermanfaat jika uraian pekerjaan tersebut
memperjelas harapan-harapan organisasi kepada para pekerja, dan keterkaitan
antara tugas-tugas, standar-standar, kecakapan-kecakapan, dan
kualifikasi-kualifikasi minimal. Oleh karena itu, analisis pekerjaan ini memuat
keterangan-keterangan yang berkisar pada pertanyaan-pertanyaan, seperti:
a. Tasks. Perilaku, kewajiban, atau fungsi apa
yang penting bagi suatu pekerjaan?
b. Conditions. Bagaimana sifat dasar daripada
pekerjaan, atau syarat-syarat apa yang diperlukan agar pekerjaan itu
terlaksana, biasanya mudah atau sulit? Petunjuk tertulis apa atau
instruksi-instruksi supervisor apa yang tersedia untuk membantu pekerja dalam melaksanakan
suatu tugas tertentu?
c. Standards. Harapan-harapan performansi
obyektif apa yang diberikan pada setiap tugas, yang dituangkan menurut
ketentuan standar kuantitas, kualitas atau ketepatan waktu, yang benar-benar di
kaitkan dengan tujuan organisasi?
d. SKAs, (Skills, Knowledges, and
Abilities).
Kecakapan-kecakapan apa, pengetahuan, pengetahuan dan kemampuan-kemampuan apa
yang yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap tugas pada standar minimal yang
di terima?
e. Qualifications.Pendidikan dan pengalaman yang
bagaimana, serta kualifikasi-kualifikasi lain yang bagaimana yang dibutuhkan
untuk memastikan bahwa para pekerja mempunyai SKAs yang diperlukan bagi
pelaksanaan tugasnya.
Uraian pekerjaan yang berorientasikan hasil menguraikan
harapan-harapan
organisasi
yang jelas kepada para pekerja dan sekaligus mendorong para supervisor dan
pekerja untuk mengetahui bahwa baik standar maupun imbalan tergantung pada
persyaratan-persyaratan.
SKAs terkait dengan performansi tugas, dan kualifikasi-kualifikasi
minimal dikaitkan dengan SKAs dengan menggunkan metode penilaian isi (content).
Oleh karena standar performansi berubah-ubah maka adalah mungkin bahwa SKAs
akan berubah memenuhi gaya, seperti kualifikasi minimal.
Uraian pekerjaan yang berorientasikan hasil memusatkan perhatian pada
standar-standar performansi, persyaratan apa yang membedakan pekerjaan, dan
kaitan-kaitan antara standar-standar, SKAs, dan kualifikas-kualifikasi. Model
ini banyak membantu untuk menyelesaikan permasalahan-permaalahan yang terdapat
pada uraian pekerjaan radisional.
a. Kelebihan-kelebihan Model yang Berorientasikan Hasil (RODs)
Model
RODs ini mempunyai kelebihan-kelebihan, yang antara lain meliputi:
1. Model ini menyediakan suatu sarana
untuk menghubungkan input-input personil terhadap output-output organisasi bagi
para perencana program.
2. Model ini menyediakan sarana untuk
memperkenalkan kepada para pekerja yang baru atas harapan-harapan,
tujuan-tujuan, MBO yang ditetapkan, dn untuk mengadakan evluasi terhadap
performansi pekerja secara lebih obyektif bagi para manajer.
3. Model ini memberikan gambaran yang
jelas mengenai harapan-harapan performansi organisasi, dan kualifikasi minimal
yang dibutuhkan untuk promosi atau penempatan bagi para pegawai.
4. Mengingatkan dampak dari pada
manajer kepegawaian terhadap produktivitas organisasi dan pekerja daripada
membatasi dampak mereka pada manajemen kedudukan dan pemaksaan pengawasan
legislatif dan luar.
b. Kelemahan-kelemahan Model yang Berorientasi Hasil (RODs)
Model analisis pekerjaan yang
berorientasi hasil ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
1. Perubahan-perubahan di dalam
syarat-syarat dan standar-standar menuntut peninjauan kembali atas RODs.
Syarat-syarat yang mempengaruhi performansi akan berubah yang pada gilirannya
akan menuntut RODs untuk dirumuskan kembali guna memuat dan merinci
syarat-syarat yang berubah tersebut;
2. Setiap kedudukan menuntut RODs
tersendiri;
3. Beberapa kedudukan tidak mempunyai
standar-standar performansi yang tidak dapat diukur;
Antara RODs dengan meode-metode valuasi tradisional terdapat
keterkaitan yang saling melengkapi. Metode-metode tradisional akan menunjukkan
struktur pekerjaan dan organisasi, dan RODs akan menunjukkan bagaimana
kualifikas-kualifikasi yang meningkat berkaitan dengan SKAs dan SKAs berkaitan
dengan performansi tugas. Menerima RODs berarti organisasi akan menggunakan dua
jenis uraian kerja; yang tradisional dan yang berorientasikan performansi (Performance-oriented).
Jadi pengalaman memperlihatkan bahwa teknik-teknik
yang berbeda diperlukan, dan berbagai metode evluasi performansi juga diperlkan
untuk berbgai tujuan. Juga diperlukan berbagai metode seleksi-tes-tes
performansi, peninjauan kembali atas biodata, atau wawancara-wawancara – untuk
jenis keduduka yanng berbeda. Oleh karena analisis pekerjaan dan evaluasi
digunakan untuk beberapa maksud, antara lain untuk pengawasan eksternal,
orientasi pegawai, dan perbaikan performansi pekerjaan. Oleh karena itu,
diperlukan keaabsahan dari berbagai metode evaluasi kerja untuk tujuan-tujuan
tersebut.
H. Klasifikasi
Pekerjaan
Klasifikasi pekerjaan merupakan proses pengkategorisasian kedudukan sesuai
dengan jenis kerja yang dilakukan, jenis kecakapan yang dibutuhkan, atau factor
lainnya yang berkaitan dengan kerja. Klasifikasi mempermudah analisis pekerjaan
karena klasifikasi berarti uraian pekerjaan, dan standar kualifikasi yang
dibakukan dapat dirumuskan untuk sekumpulan posisi. Pekerjaan sebenarnya
merupakan sekumpulan kedudukan yang sangat mirip sesuai dengan tugas-tugas dan
kualifikasi-kualifikasi untuk pembenaran keberadaannya seperti ditetapkan dalam
uraiana pekrjaan
Ada dua jenis kualifikasi yang umum dipakai,
yakni :
1. Pekerjaan-pekerjaan dibagi ke dalam
klasifikasi-klasifikasi okupasi yang umum
2. Dalam setiap klasifikasi okupasi yang umum,
pekerjaan-pekerjaan dibedakan menurut tingkat anggung-jawabnya.
Sistem klasifikasi untuk semua pekerjaan,baik
disektor public maupun swata, didasarkan pada beberapa faktor:
1. Masukan informasi, Dimana dan bagaimana
si pekerja memperoleh informasi yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.
2. Proses-proses mental, Pertimbangan apa yang
ditekankan dalam pembuatan keputusan, perencanaan dan aktivitas-aktivitas
proses informasi apa yang dilibatkan dalam pelaksanaan pekerjaan.
3. Output pekerjaan, Aktivitas-aktivitas
fisik apa yang dilakukan oleh para pekerja, dan alat-alat apa yang dipakai oleh
para pekerja?
4. Relasi dengan orang, Relasi dengan orang lain
yang bagaimana yang dituntut dalam pelaksanaan pekerjaan?
5. Konteks pekerjaan, Dalam konteks fisik dan
social apa pekerjaan dilaksanakan?
6. Metode-metode kerja, Metode-metode atau
teknik-teknik apa yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan?
7. Ciri-ciri pekerja, Ciri-ciri kepribadian
atau kemampuan-kemampuan apa yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan?[8]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar