Selasa, 15 Agustus 2017

Halal tourism conference in afghanistan

                               Halal tourism conference in afghanistan
 

          Afghanistan is a relatively poor country, heavily dependent on agriculture and livestock. Its economy was weakened by political unrest, and the latest military, an extra drought with the difficulty of the nation between 1998-2001. Some residents experience food crises, clothing, shelter, and lack of health care. This condition is exacerbated by military operations, and political uncertainty. Inflation leaves a lot of trouble. Following a US-led coalition war that led to the fall of the Taliban in November 2001, and the establishment of the Afghan Interim Authority (AIA) resulting from the Bonn Accords in December 2001, the International effort to rebuild Afghanistan was aimed at the Tokyo Donor Conference for Reconstruction of Afghanistan in January 2002, $ 4.5 million collected for trust funds to be arranged by the World Bank
Generally, Afghanistan is considered a South Asian country, but there is no clear classification. This is because Afghanistan lies at the crossroads of Asia and is affected by the various cultures of the countries that surround it. Afghanistan is generally classified as a South Asian country as it is one of the "Greater Kingdom" regions, which is influenced by Indian culture and beliefs, such as Hinduism and Buddhism. Nonetheless, Afghanistan is the place where much of India's influence ends, right in the Hindu Kush mountains stretching from northeast to southwest Afghanistan.

DESTINATION TOURISTS IN AFGHANISTAN
When you visit Afghanistan, you may think of war, but in fact Afghanistan is not like that, because Afghanistan actually has some attractions that you deserve to visit because of its beauty. The following is a brief explanation of the important and beautiful places that you must know and visit in Afghanistan.

Band e-Amir, Afghanistan
There are 5 lakes located in Band-e-Amir that have a very beautiful view. The combination of the five lakes is called Band-e-Amir. Lake Band-e-Amir also called the name of Lake Permata due to its beauty. Lake Band-e-Amir is naturally formed from a remarkable process of geological formation. Lake Band-e-Amir has a uniqueness of the color of water located on the lake is colored Blue.


Museum of Kabul, Afghanistan
This museum is a place of valuable historical record of central Asia built since 1920. Kabul Museum is often referred to as the National Museum of Afghanistan. In this ric collections from Central Asia. The Kabul Museum has collections such as the history of Afghan Kushan culture, the history of Buddhism and the spread of early Islamic religion, as well as several manuscripts, miniatures, weapons, and objects belonging to the kingdom are also housed in this Kabul Museum.

Khyber Pass
Khyber Pass is an important place in Afghanistan. Because the Khyber Pass is the link between Pakistan and Afghanistan. Khyber Pass became an important history as a place for trade routes between Central Asia and South Asia. For those of you who want to visit Afghanistan, there is no wrong to visit the Khyber Pass to just see and buy souvenirs here.


Urgensi Dakwah Ekonomi Islam


Urgensi Dakwah Ekonomi  Islam


Dakwah dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam menyeru dan mengajak  pada kebaikan hingga kembali kepada jalan yang diridhoi Allah. Mendakwahkan suatu kebaikan tentu memerlukan ilmu yang mencukupi, supaya tidak terdapat keraguan dalam menyampaikan, menerima dan menerapkannya. Layaknya manusia yang mempunyai  kompetensi inti yang berbeda, maka begitupun dengan dakwah. Dakwah saat ini telah berkembang tak melulu mengenai masalah dasar keagamaan seperti ibadah, larangan Allah, surga dan neraka, tetapi telah merambah ke ranah yang universal[1], termasuk di dalamnya ekonomi syariah. Setiap orang tentunya mempunyai kompetensi ilmu  tersendiri yang dapat didakwahkan, yang tentunya tidak melenceng dari koridor agama islam dan Al Quran. Seiring dengan dinamisnya ilmu dan perkembangan zaman, maka telah banyak ilmu pengetahuan yang menyisipkan bahkan mengkhususkan pembahasannya secara syariah dengan tujuan yang tetap sama yaitu kembali kepada perintah Allah yang sesungguhnya. Kembali kepada jalan yang sebenar-benarnya. Dakwah ekonomi Syariah berarti menyampaikan kebaikan kepada sesama manusia mengenai pentingnya berekonomi secara syariah, berekonomi yang diridhai Allah seperti dengan meninggalkan riba, menginfakkan harta kepada yang membutuhkan, bagaimana mencapai berkah dan maslahah, dan tujuan lainnya yang akhirnya bermuara kepada kesadaran manusia untuk kembali ke  jalan Allah SWT.
Pada masa kini perekonomian global lebih mengarah ke sistem ekonomi kapitalis karena telah mengarah pada ciri-ciri kapitalis. Dalam sistem ekonomi kapitalis hanya mengejar keuntungan saja, sistem ini tidak menitikberatkan atau memikirkan pihak-pihak yang bisa saja dirugikan, selain itu norma dan etika juga masih jarang digunakan di dalam sistem kapitalis.
Sistem ekonomi mengalami perkembangan, mulai dari sistem ekonomi tradisonal, modern hingga kapitalis pada zaman sekarang. Perkembangan itu di pengaruhi oleh pola pikir manusia yang semakin lama manusia ingin bebas dantidak mau dibatasi, sama seperti kegiatan ekonomi yang mereka lakukan. Manusia semakin ingin untuk terlepas dari aturan-aturan pemerintah, oleh sebab itu sistem kapitalis mengalami perkembangan yang pesat. Tujuan sistem perekonomian Islam yang akhirnya dipilih menjadi penengah atas permasalahan yang ada karena sistem kapitalis yang berkembang yakni dengan mewujudkan efisiensi dan keadilan dalam alokasi serta pendistribusian sumber daya dimana sistem perekonomian Islam ini juga mengakui peran kekuatan pasar dan kebebasan individu. Akan tetapi sistem ini juga mengakui kemungkinan dampak yang merugikan dari pasar yang benar-benar tidak diatur pada berbagai macam lapisan masyarakat, khususnya pihak yang sekiranya tidak mampu (miskin/lemah).
Kondisi perekonomian di Indonesia sendiri tidak terlepas dari arus globalisasi. Akibat dari globalisasi bagi Indonesia pun memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif globalisasi bagi indonesia adalah mendorong Indonesia untuk memproduksi barang dengankualitas yang baik sehingga dapat meningkatkan daya saing produksi dalam negeri di pasar internasional, mendorong para pengusaha untuk meningkatkan efisiensi dan menghilangkan biaya tinggi. Sedangkan dampak negatif globalisasi ekonomi bagi indonesia adalahglobalisasi ekonomi mengakibatkan kesenjangan sosial yang semakin besar antara yang kaya dan yang miskin.
Kita tentunya sudah familiar dengan ayat di atas (Q.S. Al-Ashr :1-3). Ayat ini menjelaskan tentang kesuksesan hidup di dunia dan akhirat yang sesungguhnya. Pada ayat tesebut dijelaskan bahwa terdapat empat pilar kesuksesan hidup. Pilar kesuksesan hidup tersebut diantaranya, iman, amal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Apabila kita mampu menjalankan keempat pilar itu maka inysa Allah, surga adalah tempat kita kembali di akhirat kelak.
Salah satu dari keempat pilar kesuksesan itu adalah saling menasihati supaya mentaati kebenaran, dengan kata lain adalah dakwah. Dalam bahasa arab,  dakwah artinya ajakan atau undangan, dimana undangan tentunya ditunjukan kepada pihak luar. Maka, dakwah adalah undangan kepada nonmuslim untuk masuk islam. Jika ajakan untuk kembali dalam kehidupan islam ditujukan kepada saudara sesama  muslim, maka hal ini bukanlah dakwah, melainkan islah.



Sejarah SEF (Sharia Economic Forum) Universitas Gunadarma

         Sejarah SEF (Sharia Economic Forum)

Seiring  berkembangnya  pemahaman bahwa ekonomi berlandaskan nilai-nilai keislaman memang menjadi solusi utama perkenomian negeri serta dunia, maka dirasa amat perlu bagi Universitas Gunadarma untuk turut serta berperan aktiv dan berkontribusi di dalamnya. Berawal dari ide briliant para alumni Universitas Gunadarma yang mengadakan sebuah acara berbasis ekonomi syariah yaitu Gunadarma Sharia Economic Event (G-SENT) pada tahun 2004, di luar dugaan kegiatan ini dinilai cukup berhasil oleh pihak kampus karena dapat menarik dan menumbuhkan minat mahasiswa terhadap ekonomi syariah. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh mereka untuk membentuk sebuah lembaga yang dapat mengakomodasi minat kalangan mahasiswa dalam bidang ekonomi syariah.
Maka tercetuslah sebuah nama awal yaitu FKEI (Forum Kajian Ekonomi Islam), namun belum disahkan oleh pihak kampus. Barulah pada masa kepemimpinan presiden dan wakil presiden BEM FE periode 2005-2006 yaitu Saudara Panji dan Vicky, lembaga tersebut dideklarasikan pada bulan Januari 2006 oleh Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi, Bapak Budi Prijanto dengan sebuah nama baru yang cukup indah didengar yaitu SEF (Sharia Economic Forum). Pada masa itu lembaga ini berada di dalam struktur BEM Fakultas Ekonomi sebagai Badan Semi Otonom. Pada tahun 2006-2007, terpilihlah Saudara Winardhi Wareham sebagai ketua SEF yang pertama. Beliau memimpin SEF selama dua periode yakni 2006-2007 dan 2007-2008.
Sebagai Badan semi Otonom dan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) di Universitas Gunadarma, SEF terus berupaya mencetuskan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dari segi ruhiah dan ilmiah melalui program-program unggulannya, di antaranya adalah Gunadarma Sharia Economic Event, Temu Alumni, Kuliah Informal Ekonomi Syariah, Aktualisasi Ekonomi Syariah, dan Media Syar’i untuk mensosialisasikan Ekonomi Syariah. Setelah masa kepemimpinan Saudara Winardhi Wardhana, estafet kepemimpinan SEF dilanjutkan oleh Saudara Aulia Reza Utama. Organisasi ini masih seperti balita yang sedang tumbuh, namun terus mencoba menjadi luar biasa dengan terus memperbaiki diri dan belajar dari setiap kesalahan. Sharia Economic Forum juga mendapat banyak masukan dari rekan-rekan Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) lainnya yang tergabung dalam Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI).
Pada periode 2009-2010, setelah berdiskusi dengan dosen-dosen pengajar di Universitas Gunadarma, SEF mendapat masukan agar segera mengembangkan kegiatannya, karena forum ini bisa digunakan sebagai sarana berdiskusi mahasiswa fakultas ekonomi khususnya dan di luar fakultas ekonomi yang memang tertarik dengan ekonomi syariah, selain pengetahuan ekonomi syariah yang memang perlu untuk dipelajari oleh setiap orang. Atas dasar itu, maka dilakukan open recruitment untuk anggota forum yang ingin belajar ekonomi syariah, setelah periode sebelumnya yang hanya terdiri dari BPH SEF saja juga merupakan anggota BEM FE. Selanjutnya, pada era kepemimpinan SEF oleh Saudara Muhamad Rizky Rizaldy (Manajemen, 2008) selama dua periode berturut-turut yakni pada tahun 2010-2011 dan 2011-2012. Beliau memberikan sentuhan unik dan berpengaruh besar terhadap perkembangan SEF.
Cita-citanya untuk membuat organisasi ini lebih dikenal oleh seluruh civitas Universitas Gunadarma, sebagai upaya syiar ekonomi Islam pun tercapai. Eksistensi SEF di regional Jabodetabek juga mulai terlihat sejak dikirimnya 10 anggota untuk mengikuti Sharia Economist Training di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Islam Tazkia Bogor asuhan Bapak Syafi’i Antonio, dan berhasil meraih prestasi sebagai penulis essay terbaik untuk kategori penulis laki-laki maupun perempuan. Sudah cukup banyak Kontribusi yang dicapai oleh ketua SEF saudara Muhammad Rizky Rizaldy yaitu Mampu Mengadakan 7 Event Eksyar dan 7 Seminar G-sent ,Juara 3 Telmireg dan Favorit Video Kreatif Telmireg, 10 besar Telminas,Juara 1 Essay IED SEBI.
 SEF kini dikenal sebagai komunitas mahasiswa yang eksis di Universitas Gunadarma dalam pekatnya nuansa kemuliaan etika di sisi keilmiahannya. “Kami hanya berupaya siapa pun yang belajar di SEF bisa jadi orang baik, dan punya semangat untuk memperbaiki” ujar Rizaldy. Perjalanan SEF terus ditandai dengan bergantinya kepemimpinan pada periode 2012-2013, yang di ketuai oleh Saudara Khairul Ardianto (Akuntansi, 2009).
Di bawah kepemimpinan Khairul, SEF berupaya untuk lebih di kenal bukan hanya di kalangan kampus dan Jabodetabek, melalui Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) melainkan juga ingin melebarkan prestasinya di wilayah Jabodetabek. Di buktikan dengan prestasinya sebagai Media Terbaik serta terpilih menjadi 5 besar KSEI Terbaik Nasional yang di raih pada acara Musyawarah Nasional (MUNAS) yang memang merupakan agenda tahunan FoSSEI. hal itu pun terwujud dengan semakin di kenalnya program-program SEF oleh FoSSEI Jabodetabek serta semakin eratnya ikatan silaturahim antar KSEI. Seiring berjalannya waktu, SEF semakin menunjukan performanya dalam menyebarkan kebaikan melalui Ekonomi Syariah. kepemimpinan SEF kemudian beralih kepada Saudara Ashabul Kahfi periode 2013-2014 yang berhasil membawa SEF lebih luas lagi dalam menjalin relasi di ranah Nasional dengan terpilihnya kembali SEF sebagai KSEI dengan Media Terbaik Nasional melalui MUNAS. Bersama Kahfi, SEF mampu bertahan 2 (dua) tahun berturut-turut dengan prestasi tersebut.
Setelah itu Ashabul Kahfi juga terpilih menjadi Presidium Nasional (Presnas) dan di lantik pada saat MUNAS FoSSEI 2014, merepakan kebangsaan tersendiri bagi Kahfi untuk membawa nama baik SEF dan menjalin silaturahim dengan KSEI di seluruh Indonesia. Ekonomi Syariah di Indonesia yang kian memberikan progres positif memicu SEF untuk terus maju dan berkembang serta dapat menjadi tolak ukur kesuksesan sebuah Forum. Estafet dakwah pun di lanjutkan dengan terpilihnya Saudara Ahmad Husin (Akuntansi, 2011) sebagai Ketua SEF periode 2014-2015, bercermin dari prestasi yang mampu di wariskan Oleh para alumni SEF sebelumnya, Ahmad Husin dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh, memimpin para anggotanya untuk mempertahankan prestasi yang telah di raih. Ia berupaya memberikan kekuatan bagi internal SEF sendiri agar dapat menjadi contoh bagi para Ekonom Rabbani lainnya, bersama Husin, SEF yang dinilai masih dalam masa pertumbuhan mampu membuktikan kualitas stakeholdersnya dengan menjuarai berbagai kompetisi di ajang Temu Ilmiah Regional (TEMILREG) 2015 hingga berhasil menjadi Finalis 6 besar Olimpiade Ekonomi Islam Nasional pada Temu Ilmiah Nasional (TEMILNAS) 2015. Husin beserta jajarannya selalu menumbuhkan semangat kepada para SDM SEF dan menciptakan mimpi-mimpi baru yang luar biasa bagi perkembangan Ekonomi Islam di dunia.
SEF juga menjalin hubungan baik dengan berbagai lembaga ekonomi syariah, mulai dari Bank Indonesia, sesama KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) di seluruh universitas di Indonesia, sampai berbagai institusi keuangan. Hingga kini, bertepatan dengan 1 (satu) dekade usia SEF. Pada periode 2015-2016, SEF dipimpin oleh Saudara Rivaldi Samah (Akuntansi, 2012). Rivaldi mempunyai design kepemimpinannya sendiri untuk seluruh stakeholders SEF yang ingin mempunyai kualitas yang mumpuni untuk menjawab tantangan zaman melalui perwujudan visi misinya satu tahun kedepan. Semoga harapan dan cita-cita Rivaldi dalam membangun keluarga SEF dapat terealisasi dengan ukhuwah islamiyah yang selalu menjadi kekuatan berdakwah, selaras dengan budaya SEF yakni Ikhlas dan Professional.



Resume Mahzab Ekonomi

Resume Mahzab Ekonomi


1. Mazhab Baqir As-Sadr
Mazhab ini berpendapat bahwa ilmu ekonomi tidak pernah bisa sejalan dengan Islam, Ekonomi tetap Ekonomi dan Islam tetap Islam. Menurut ilmu ekonomi yang sudah kita kenal, masalah ekonomi muncul karena adanya keinginan manusia yang tidak terbatas, sedangkan sumber daya yang ada untuk memuaskan keinginan manusia jumlahnya terbatas. Mazhab Baqir menolak pernyataan ini, karena menurut mereka Islam tidak mengenal adanya sumber daya yang terbatas.  Tokoh-tokoh mazhab ini adalah Muhammad Baqir as-Sadr, Abbas Mirakhor, Baqir al-Hasani, Kadim as-Sadr, Iraj Toutouchian, Hedayati, dan lainnya.

2. Mazhab Mainstream
Mazhab kedua ini justru setuju dengan masalah ekonomi itu muncul karena munculnya keinginan manusia yang tidak terbatas sedangkan sumber daya yang ada terbatas. Mazhab ini, tidak setuju dengan membangun teori yang baru dalam ekonomi, tetapi mereka berpendapat untuk memperbaiki teori yang lama kearah yang lebih baik. Tokoh-tokoh mazhab ini di antaranya M. Umer Capra, M.A. Mannan, M. Nejatullah Siddiqi, dan lainnya.

3. Mazhab Alternatif-Kritis
Mazhab ini mengkritik kedua mazhab sebelumnya. Mazhab ini adalah sebuah mazhab yang kritis. Mereka tidak setuju dengan kedua pendapat dari mazhab baqir dan mazhab mainstream, yang dilakukan mazhab ini hanya mengkritik dan mengkritik tanpa menemukan solusi yang tepat. Tokoh-tokoh dalam mahzab ini adalah Timur Kuran (Ketua Jurusan Ekonomi University of Sourthen California), Jomo (Yale, Cambridge, Harvad, Malaya), Muhammad Arif, dan lain-lain.


Prepare Your dreams


AKU DAN MASA DEPAN


Mimpi dan cita-cita tidak ada batasnya. Setiap orang berhak memiliki mimpi dan cita-cita  tanpa  memandang usia, status sosial, ras, agama, ataupun gender. Berani bermimpi, mengajar dan menggapainya adalah suatu hal yang manusiawi. Berhenti bermimpi dan tidak tahu akan cita-cita maka semua akan sia-sia.
Mimpi dan cita-cita nampaknya hanya sebuah kata yang sepele maknanya padahal ia lebih dari apa yang kita pikirkan. Mimpi dan cita-cita harus digapai menentukan masa depan dan diwujudkan, tentu dengan kerja keras dan belajar yang tepat. Mimpi dan cita-cita manusia di masa mendatang karena seperti sudah disebutkan diatas bahwa mimpi dan cita-cita adalah peta yang menuntun kita. Memaksimalkan dan mengoptimalkan mimpi dan cita-cita yang kita miliki akan membawa keuntungan bagi kita sendiri, sang empunya mimpi dan cita-cita tersebut.
Cara mengoptimalkan dan memaksimalkan mimpi dan cita-cita yang kita miliki akan membawa keuntungan bagi kita sendiri, bisa dilakukan dengan cara seperti mengetahui bakat dan potensi diri, karena hal tersebut akan menjadi senjata yang ampuh dalam meraih cita-cita, melatih kemampuan diri dengan cara melatih dan asah bakat dan potensi diri, jangan cepat puas ketika berhasil dalam langkah kecil mewujudkan cita-cita, dan meningkatkan ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan salah satu faktor penyebab keberhasilan dalam meraih cita-cita.
Jika pilihan atau cita- cita itu jatuh kepada pilihan mengambil kesempatan adalah pilihan yang tepat, sekarang saatnya kita berjuang dengan maksimal tidak perlu terobsesi pada hasil akhirnya biarlah takdir Allah yang bekerja menurut kadar dan ukurannya.
Dalam konsep pembangunan social, banyak cendekiawan muslim bangsa yang berbicara tentang konsep pembangunan peradaban dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Untuk menggapai cita-cita kita harus berlandaskan pada ilmu yang akurat. Dalam menuntut ilmu, tentu harus ada niat yang terdapat diri masing-masing individu.
Menuntut ilmu bisa diambil dari mana saja, mulai dari internet hingga buku. Dalam mengaplikasikan ilmu ke dalam kehidupan nyata bisa melalui mengajar, dari yang muda hingga yang tua. Agar tercapainya mimpi dan cita-cita perlu adanya penerapan yang berkaitan dengan hal tersebut.
Tidak mudah memang dalam menggapai mimpi. Namun, jika sudah memiliki niat dan tekad, Insya Allah akan selalu diberikan kemudahan oleh Allah. Kuncinya adalah niat, jalani prosesnya dan terapkan.
Dalam Al Quran surat al alaq ayat 1
 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (QS. Al-alaq: 1)
Ini sudah jelas bahwa kita harus membaca, karena mulai dari membaca kita akan tau mengenai kebenaran. Memiliki cita-cita boleh dikatakan sebagai nilai lebih seseorang. Karena dengan cita-cita, mereka akan memiliki motivasi serta semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Bayangkan bila tidak punya cita-cita, menjalani kehidupanpun akan terasa sangat monoton dan membosankan.
Manfaat lain dalam memiliki cita-cita adalah membuat arah dan tujuan kehidupan semakin jelas, kita akan tahu bagaimana caranya berusaha dan mengapa kita melakukannya. Selain itu cita-cita akan membantu dalam melatih mental dan niat kita, karena dalam meraih cita-cita pastilah banyak tantangan dan ujian yang harus dilewati.
Meskipun begitu, dalam meraih cita-cita yang diinginkan tidaklah mudah. Fakta membuktikan bahwa hanya sekitar 25%, presentase manusia yang mampu dan sukses meraih cita-cita yang mereka inginkan. Kebanyakan diantara mereka banyak yang gagal ditengah jalan. Penyebab kegagalan meraih cita-cita adalah karena faktor keluarga, ekonomi, lingkungan, pendidikan, serta mentalitas.
Sedangkan bagi yang mampu dan sukses meraih cita-cita, adalah karena  berusaha berkerja dalam memujudkan cita-citanya. Bukan hanya bermalas-malasan serta mengandai-andai, melainkan dengan usaha, niat, kerja keras, serta keberuntungan hingga mampu meraih apa yang diinginkan.
Salah satu mimpi saya adalah menjadi wanita yang memiliki kontribusi dalam keuangan negara yang berbasis syariah. Karena prinsip keuangan Islam merupakan prinsip yang tepat untuk mewujudkan financial inclusion dan mampu mendorong tingkat pemerataan dalam meningkatkan pertumbuhan nasional serta kesejahteraan bersama.
Sruktur keuangan Islam sangat kuat bersumber dari al-Qur’an dan sunnah, serta penafsiran terhadab sumber-sumber wahyu ini oleh para ulama. Selama tiga dasawarsa terakhir, struktur keuangan Islam telah tampil sebagai salah satu implementasi modern dalam sistem hukum Islam yang paling penting dan berhasil, dan sebagai uji coba bagi pembaruan dan perkembangan hukum Islam pada masa datang. Meskipun demikian, keuangan Islam tetap menimbulkan berbagai kesalahpahaman dikalangan muslim sendiri sekaligus kalangan non-Muslim. Keungan Islam bukanlah temuan dari gerakan politik eksterm Islam abad ini, namun bersumber dari perintah yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad.
Sistem keuangan Islam dan perbankan Islam hadir untuk memberikan jasa keuangan yang halal kepada komunitas muslim.selain tujuan khusus ini, institusi perbankan dan keuangan,sebagaimana aspek-aspek masyarakat Islam lainnya,diharapkan dapat “memberi kontribusi yang layak bagi tercapainya tujuan sosio –ekonomi Islam”. Target utamanya adalah kesejahteraan ekonomi yang tinggi, keadilan sosio-ekonomi secara distribusi pendapatan dan kekayaan yang wajar, stabilitas nilai uang, dan mobilisasi serta investasi tabungan untuk pembangunan ekonomi yang mampu memberikan jaminan keuntungan (bagi-hasil) kapada semua pihak yang terlibat. Tampaknya, dimensi relijius harus dikemukakan sebagai tujuan terakhir,dalam arti bahwa peluang untuk melakukan operassi keuangan yang halal jauh lebih penting dibanding model operasi keuangan sendiri. 
Mafaat yang didapat apabila kita menerapkan ekonomi syariah kedalam kehidupan sehari-hari, seperti mendapat keberkahan, Menerapkan dan mengamalkan ekonomi syariah akan mendapatkan keuntungan duniawi dan ukhrawi. Banyak mereka yang sudah mengimplementasikan kemudian memberi testimoni bahwa salah satu keungulan bentuk harta yang halal adalah keberkahan. Dalam prakteknya seberapapun besarnya harta yang diterima maka akan selalu cukup dengan kebutuhan yang ditanggung. Baik diterima besar maupun kecil.
Tanpa ada pihak yang dirugikan, dengan melakukan praktek ekonomi berdasarkan syariah Islam selain mendapatkan nilai ibadah akan ada keadilan didalamnya. Sistem pembagian keuntungan ekonomi syariah ditetapkan dengan sistem bagi hasil yang telah disepakati semua pihak. Dalam hukum Islam apabila terdapat satu atau lebih pihak yang merugi karena pengambilan keuntungan yang terlalu besar diluar kesepakatan maka hal ini termasuk penganiayaan dan diharamkan.
Distribusi merata, Bahkan untuk tuntunan yang mungkin terlihat sebagai sesuatu yang berat dan menyakitkan, akan ada hikmah yang membawa kemaslahatan (QS. 2:216). Dalam skala makro dapat dipastikan penerapan ekonomi syariah akan memeratakan distribusi pendapatan dan kekayaan seperti halnya era Abdullah ibn Umar. Dari sinilah peran zakat, infaq sadaqah juga athaya oleh negara kepada masyarakatnya.
Tahan Krisis, banyak ahli yang telah mengakui salah satu keuntungan ekonomi syariah. Ekonomi syariah dapat mengurangi kerentanan perekonomian akibat fenomena yang disebut sebagai decoupling economy. Melalui sistem bagi hasil, ekonomi syariah membuat tidak adanya jarak antara sektor keuangan dan sektor riil.
Pertumbuhan Entrepreneur tanpa riba. Sistem penerapan ekonomi syariah memiliki prinsip bagi hasil (lost and profit sharing) yang merupakan implementasi keadilan dalam roda perekonomian. Salah satu cerminannya adalah dalam produk-produk mudharabah dan musyarakah yang telah diterapkan di singapura dan Inggris.

             


Biografi Ibnu Khaldun Tokoh Ekonomi Islam

Biografi Ibnu Khaldun







Ibn Khaldun seorang tokoh yang sangat popular yang memiliki nama lengkap (/ˌɪbənxælˈduːn/; Arabic: أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي‎‎, Abū Zayd ‘Abd ar-Raḥmān ibn Muḥammad ibn Khaldūn al-Ḥaḍramī. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.

        Perjalanan Hidup Ibnu Khaldun
    
      1.      Fase pertama; Masa Pendidikan
            Fase pertama ini dilalui Ibnu Khaldun di Tunis dalam jangka waktu 18 tahun, yaitu antara tahun 1332-1350 M. Seperti halnya tradisi kaum Muslim pada waktu itu, ayahnya adalah guru pertamanya yang telah mendidiknya secara tradisional, mengajarkan dasar-dasar agama Islam. Di samping ayahnya, Ibnu Khaldun juga mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dari para gurunya di Tunis.
     2.      Fase kedua; Aktifitas Politik Praktis
            Fase kedua dilalui Ibnu Khaldun dalam berbagai tempat seperti di Fez, Granada, Baugie, Biskara dan lain-lain, dalam jangka waktu 32 tahun antara 1350-1382 M. Karir pertama Ibnu Khaldun dalam bidang pemerintahan adalah sebagai Sahib al-Alamah (penyimpan tanda tangan), pada pemerintahan Abu Muhammad Ibn Tafrakhtn di Tunis dalam usia 20 tahun. (Mukti Ali, 1970:17)
            Awal karir ini hanya dijalani Ibnu Khaldun selama kurang lebih 2 tahun, kemudian ia berkelana menuju Biskara karena pada tahun 1352 M Tunis diserang dan dikuasai oleh Amir Abu Za’id, penguasa Konstantin sekaligus cucu Sultan Abu Yahya al-Hafsh. Pada waktu Abu Inan menjadi raja Maroko, Ibnu Khaldun mencoba mendekatinya demi mempromosikan dirinya ke posisi yang lebih tinggi. Sultan Abu Inan bahkan beliau mengangkatnya sebagai sekretaris kesultanan di Fez, Maroko. Di kota inilah Ibnu Khaldun memulai karirnya dalam dunia politik praktis, yaitu pada tahun 1354 M.
      3.      Fase ketiga: Aktivitas Akademis dan Kehakiman
            Masa ini merupakan fase terakhir dari tahapan perjalanan Ibnu Khaldun, fase ini dihabiskan di Mesir kurang lebih 20 tahun antara 1382-1406 M. Tiba di Kairo, Mesir pada 06 Januari 1983. Pada masa ini dinasti Mamluk sedang berkuasa. Kemajuan peradaban dan stabilitas politik saat itu menjadikan Ibnu Khaldun lebih tertarik dan karyanya al-Muqaddimah merupakan magnum opus atau kedatangan karyanya lebih dahulu daripada pengarangnya sehingga kedatangannya disambut gembira dikalarigan akademisi, disinilah tugas barunya sebagai seorang pengajar dilakukan Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun memberi kuliah di lembaga-lembaga pendidikan Mesir, seperti Universitas al-Azhar, Sekolah Tinggi Hukum Qamhiyah, Sekolah Tinggi Zhahiriyyah dan sekolah tinggi Sharghat Musyiyyah.
        Karya-Karya Ibnu Khaldun
            Selama masa hidupnya, Ibnu Khaldun telah membuat karya tulis besar yang dinamakan Al-I’bar, Nama lengkap dari kitab ini adalah Kitab al-I’bar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi al-A’yan wa al-A’rab wa al-A’jam wa al-Barbar wa man ‘Asrahum min zawi as-Sultan al-Akbar. karya ini terdiri dari tiga buah buku yang terbagi ke dalam tujuh volume, diantaranya:
            a.       Muqaddimah (satu volume)
            Merupakan pendahuluan dari kitab Al-I’bar, Buku tersebut memuat pembahasan tentang gejala sosial, termasuk didalammnya kegiatan ekonomi
            b.      Al-I’bar (empat volume)
            Buku yang memuat uraian tentang berita-berita mengenai bangsa Arab, generasi dan Negara-negara mereka sejak permulaan terciptanya ala mini hingga masanya Ibnu Khaldun. Di dalamnya, disebutkan pula secara ringkas bangsa-bangsa dan Negara-negara terkenal yang pernah hidup semasa dengan bangsa Arab, misalnya bangsa Nabata, Suryani, Persia, Bani Israil, Koptik, Yunani, Romawi, Turku dan bangsa Eropa.
            c.       At-Ta’rif bi Ibn Khaldun (dua volume)
            Buku ini merupakan buku autobiografi dari Ibnu Khaldun, kemudian ia uraikan sebagian besar peristiwa yang ia alami semasa hidupnya.  Selain mengungkapkan kepribadiannya, terdapat pengungkapan tokoh-tokoh yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan politik dunia Islam saat itu, khususnya di daerah Maghribi.

      
     
      Kesimpulan

             Dari uraian ini, dapat ditarik kesimpulan Ada beberapa catatan penting  yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.
            Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”


Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

a.        Pengertian PHK Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan be...