Source : Pinterst
1. Pengertian Manajemen
Manajemen
dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang memiliki target dan tujuan dengan
menggunakan perencanaan, pengarahan serta pengorganisasian dalam mencapai
tujuan tersebut, Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis
kuno ménagement, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan
mengatur." Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima
secara universal.Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai
seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa
seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai
tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai
sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien.
Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara
efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir,
dan sesuai dengan jadwal.
Pengertian Manajemen Menurut
Para Ahli:
Ø Menurut
Drs. Oey Liang Lee Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya
manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ø Menurut
Prof. Eiji Ogawa Manajemen adalah Perencanaan, Pengimplementasian dan
Pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk system pembuatan barang yang dilakukan
oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah menetapkan sasaran-sasaran
untuk kerja yang dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang
berubah.
Ø Menurut
G.R. Terry:
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata.
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata.
Ø Menurut
Hilman:
Manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
Manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
2. Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen
adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam
proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan
kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan
oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad
ke-20.Ditinjau dari segi fungsinya, manajemen memiliki 4 fungsi dasar manajemen
yang menggambarkan proses manajemen, semuanya terangkum sebagai
berikut:
- Perencanaan.
- Pengorganisasian.
- Pengaruh.
- Pengendalian.
1. Perencanaan
Perencanaan melibatkan urusan memilih tugas yang harus di lakukan untuk mempertahankan tujuan organisasi, menjelaskan bagaimana tugas harus dilaksanakan, dan memberi indikasi kapan harus dikerjakan.
Aktivitas perencanaan memfokuskan pada mempertahankan tujuan. Para manajer menegaskan secara jelas apa yang organisasi harus lakukan agar berhasil. Perencanaan fokus terhadap kesuksesan dari organisasi dalam jangka waktu pendek dan juga jangan panjang.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian yakni memberi tugas sebagai hasil dari tahapan perencanaan, tugas tersebut di berikan kepada beragam individu atau grup didalam organisasi. Mengorganisir adalah untuk menciptakan mekanisme untuk menjalankan rencana.
3. Pengaruh
Pengaruh merupakan sebuah motivasi, kepemimpinan atau arah. Pengaruh dapat di definisikan sebagai bimbingan dari aktivitas dari anggota organisasi dalam arah yang dapat membantu organisasi lebih terarah untuk mencapai hasil atau target.
4. Pengendalian
Pengendalian merupakan sejumlah peranan yang dimainkan oleh para manajer:
Perencanaan melibatkan urusan memilih tugas yang harus di lakukan untuk mempertahankan tujuan organisasi, menjelaskan bagaimana tugas harus dilaksanakan, dan memberi indikasi kapan harus dikerjakan.
Aktivitas perencanaan memfokuskan pada mempertahankan tujuan. Para manajer menegaskan secara jelas apa yang organisasi harus lakukan agar berhasil. Perencanaan fokus terhadap kesuksesan dari organisasi dalam jangka waktu pendek dan juga jangan panjang.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian yakni memberi tugas sebagai hasil dari tahapan perencanaan, tugas tersebut di berikan kepada beragam individu atau grup didalam organisasi. Mengorganisir adalah untuk menciptakan mekanisme untuk menjalankan rencana.
3. Pengaruh
Pengaruh merupakan sebuah motivasi, kepemimpinan atau arah. Pengaruh dapat di definisikan sebagai bimbingan dari aktivitas dari anggota organisasi dalam arah yang dapat membantu organisasi lebih terarah untuk mencapai hasil atau target.
4. Pengendalian
Pengendalian merupakan sejumlah peranan yang dimainkan oleh para manajer:
Mengumpulkan informasi untuk
mengukur performa.
Membandingkan performa masa kini
dengan sebelumnya.
Menentukan aksi selanjutnya dari
rencana dan melakukan modifikasi untuk menuai parameter performa diharapakan
3. Pengertian Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia (SDM) merupakan
salah satu aspek yang amat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah
organisasi, baik institusi ataupun industri. SDM juga adalah kunci yang
memastikan kemajuan industri. Pada hakikatnya, SDM berupa manusia yang
dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai pelopor, pemikir dan perencana untuk
mencapai tujuan organisasi itu.
Pengertian SDM dapat dibagi menjadi dua, yakni pengertian mikro dan makro. Pengertian SDM secara mikro merupakan individu yang beroperasi dan menjadi bagian suatu industri atau institusi dan umum dikenal sebagai karyawan, pegawai, tenaga kerja, pekerja, buruh dan lain sejenisnya. Sedangkan pengertian SDM secara makro merupakan masyarakat suatu negara yang telah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja ataupun yang telah bekerja.
Pengertian SDM dapat dibagi menjadi dua, yakni pengertian mikro dan makro. Pengertian SDM secara mikro merupakan individu yang beroperasi dan menjadi bagian suatu industri atau institusi dan umum dikenal sebagai karyawan, pegawai, tenaga kerja, pekerja, buruh dan lain sejenisnya. Sedangkan pengertian SDM secara makro merupakan masyarakat suatu negara yang telah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja ataupun yang telah bekerja.
Secara garis besar, pengertian
sumber daya manusia merupakan individu yang bekerja sebagai aktivis suatu
organisasi, baik institusi ataupun industri dan berperan sebagai aset yang
harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya.
Pengertian Manajemen Sumber Daya
Manusia Menurut para ahli :
- Mary Parker Follett
- Edwin B. Flippo
- French
- Marwansyah (2010:3)
4. FUNGSI-FUNGSI OPERASIONAL SDM
- Pengadaan (procrutment) adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
- Pengembangan (development) adalan proses peningkatan ketrampilan teknis, teoristik, konseptual dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
- Konpensasi (conpesation) adalan pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak langsung (inderct), uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikannya kepada perusahaan.
- Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerjasama yang serasi dan saling menguntungkan.
- Pemeliharaan ( maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan, agar mereka bekerja sama sampai pension.
- Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk menaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma social.
- Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu perusahan.
5. Variabel-variabel lain yang Mempengaruhi Keberhasilan Organisasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi :
A. Tujuan
Visi, misi dan tujuan yang jelas akan membantu team dalam bekerja. Namun hal tersebut belum cukup jika visi, misi dan tujuan yang ditetapkan tidak sejalan dengan kebutuhan dan tujuan para anggota.
B. Tantangan
Manusia dikarunia mekanisme pertahanan diri yang di sebut “fight atauflight syndrome”. Ketika dihadapkan pada suatu tantangan, secara nalurimanusia akan melakukan suatu tindakan untuk menghadapi tantangan tersebut (fight) atau menghindar (flight). Dalam banyak kasus tantangan yang ada merupakan suatu rangsangan untuk mencapai kesuksesan. Dengan kata lain tantangan tersebut justru merupakan motivator.
Namun demikian tidak semua pekerjaan selalu menghadirkan tantangan.Sebuah team tidak selamanya akan menghadapi suatu tantangan. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya memberikan suatu tugas atau pekerjaan yang menantang dalam interval. Salah satu criteria yang dapat dipakai sebagai acuan apakah suatu tugas memiliki tantangan adalah tingkat kesulitan dari tugas tersebut. Jika terlalu sulit, mungkin dapat dianggap sebagai hal yang mustahil dilaksanakan, maka team bisa saja menyerah sebelum mulai mengerjakannya. Sebaliknya, jika terlalu mudah maka team juga akan malas untuk mengerjakannya karena dianggap tidak akan menimbulkan kebanggaan bagi yang melakukannya.
C. Keakraban
Team yang sukses biasanya ditandai dengan sikap akraban satu sama lain, setia kawan, dan merasa senasib sepenanggungan. Para anggota team saling menyukai dan berusaha keras untuk mengembangankan dan memelihara hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal menjadi sangat penting karena hal ini akan merupakan dasar terciptanya keterbukaan dan komunikasi langsung serta dukungan antara sesama anggota team.
D. Tanggungjawab
Secara umum, setiap orang akan terstimulasi ketika diberi suatu tanggungjawab. Tanggungjawab mengimplikasikan adanya suatu otoritas untuk membuat perubahan atau mengambil suatu keputusan. Team yang diberi tanggungjawab dan otoritas yang proporsional cenderung akan memilikimotivasi kerja yang tinggi.
E. Kesempatan Untuk Maju
Setiap orang akan melakukan banyak cara untuk dapat mengembangkan diri,mempelajari konsep dan ketrampilan baru, serta melangkah menuju kehidupan yang lebih baik. Jika dalam sebuah team setiap anggota merasabahwa team tersebut dapat memberikan peluang bagi mereka untuk melakukanhal-hal tersebut di atas maka akan tercipta motivasi dan komitment yang tinggi. Hal ini penting mengingat bahwa perkembangan pribadi memberikan nilai tambah bagi individu dalam meningkatkan harga diri.
F. Kepemimpinan
Tidak dapat dipungkiri bahwa leadership merupakan faktor yang berperan penting dalam mendapatkan komitment dari anggota team. Leader berperan dalam menciptakan kondisi kondusif bagi team untuk bekerja dengan tenang dan harmonis. Seorang leader yang baik juga dapat memahami 6 faktor yang dapat menimbulkan motivasi seperti yang disebutkan diatas.
Salah
satu faktor penentu keberhasilan/kegagalan organisasi adalah faktor Sumber Daya
Manusia (SDM). Keunggulan mutu bersaing suatu organisasi sangat ditentukan oleh
mutu SDM-nya. Penanganan SDM harus dilakukan secara menyeluruh dalam kerangka
sistem pengelolaan SDM
yang bersifat strategis, integrated, interrelated dan unity.
Organisasi sangat membutuhkan SDM yang kompeten, memiliki kompetensi tertentu
yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan pekerjaannya. SDM dan
Keunggulan Kompetitif Sumber daya perusahaan terdiri dari aset tangible maupun
aset intangible seperti kemampuan, proses organisasi, atribut-atribut
perusahaan,informasi dan pengetahuan. Sumber daya manusia (SDM) merupakan
sumber pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang terakumulasi dalam diri
anggota organisasi. Kemampuannya ini terus diasah oleh perusahaan dari waktu ke
waktu dan perusahaan terus mengembangkan keahliannya sebagai pilar perusahaan
agar selalu memiliki keunggulan kompetitif. Setiap langkah perusahaan untuk
mengembangkan diri dapat dengan mudah ditiru oleh perusahaan lain sehingga
tidak mungkin terus menerus dipertahankan sebagai competitive advantage.
Sebaliknya, SDM merupakan sumber keunggulan kompetitif yang potensial karena
kompetensi yang dimilikinya berupa intelektualitas, sifat, keterampilan,
karakter personal, serta proses intelektual dan kognitif, tidak dapat ditiru
oleh perusahaan lain. Tak hayal dalam lingkup industri tertentu yang lukratif
dan kompetitif akan diwarnai dengan bajak-membajak SDM untuk memacu keunggulan
kompetitif perusahaan.
Sangat pentingnya
kontribusi SDM sebagai salah satu faktor pendukung kesuksesan perusahaan amat
disadari oleh para pimpinan puncak organisasi. Sehingga perusahaan dituntut
untuk melakukan pengembangan berkesinambungan terhadap kuantitas dan kualitas
"stok" pengetahuan mereka melalui pelatihan kepada SDM atau
merangsang SDM-nya agar "learning by doing" dalam sebuah semangat
yang termaktub dalam learning organization. Membangun kemampuan SDM yang
didasari oleh kapasitas perusahaan untuk mempertahankan karyawannya, merupakan
langkah awal dalam penciptaan aset SDM startegis. Namun langkah awal tersebut
tergantung pada proses organisasi untuk mencetak SDM yang kompeten dan
kemampuan perusahaan untuk merekrut individu-individu terbaik.
6. Sikap Kerja
Sikap adalah
pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan
perasaan seseorang terhadap sesuatu.
Manusia di muka
bumi ini untuk dapat makan harus bekerja, sikap tubuh saat melakukan setiap
pekerjaan dapat menentukan atau berpengaruh terhadap keberhasilan suatu
pekerjaan. Mungkin kita beranggapan keberhasilan pekerjaan hanya dinilai dari
produktivitas, di sisi lain melupakan tingkat kelelahan atau risiko lainnya
pasca melakukan pekerjaan agar siap untuk pekerjaan berikutnya. Sikap
kerja yang ideal yang harus dimiliki oleh setiap pekerja diantaranya :
a. Kerja otot statis sedikit
b. Dalam melakukan tugas dengan memakai tangan, mudah dan
alamiah
c. Muskuler effort kecil dapat dipertahankan
d. Sikap kerja berubah/dinamis lebih baik dari pada sikap
statis tegang
Sikap kerja yang
di alami setiap orang pasti berhubungan dengan kepuasan kerja orang
tersebut,Mungkin kita beranggapan keberhasilan pekerjaan hanya dinilai dari
produktivitas, di sisi lain melupakan tingkat kelelahan atau risiko lainnya
pasca melakukan pekerjaan agar siap untuk pekerjaan berikutnya. Mari kita
mempelajari bagaimana sikap kerja yang efektif untuk menghasilkan produk yang
maksimal.
Teori sikap kerja:
Menurut Robbins (2007), sikap adalah pernyataan-pernyataan evaluatif – baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan – mengenai obyek, orang atau peristiwa. Tiga komponen sikap, antara lain: kognitif, afektif dan perilaku. Komponen kognitif sikap adalah segmen pendapat atau keyakinan dari sikap. Komponen afektif sikap adalah segmen emosional atau perasaan dari sikap. Komponen perilaku sikap adalah maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu.
Tipe-tipe sikap yang dibahas pada perilaku organisasi, antara lain: kepuasan kerja, keterlibatan dan komitmen pada organisasi. Istilah kepuasan kerja merujuk ke sikap umum individu terhadap pekerjaannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukkan sikap yang positif terhadap pekerjaan itu; seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap yang negatif terhadap pekerjaan itu.
Keterlibatan kerja merupakan tingkat dimana seseorang mengaitkan dirinya ke pekerjaannya, secara aktif berpartisipasi di dalamnya, dan menganggap kinerjanya penting bagi nilai-nilainya. Karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dengan kuat mengaitkan dirinya ke jenis kerja yang dilakukan dan benar-benar peduli dengan jenis kerja itu.
Komitmen pada organisasi adalah tingkat dimana karyawan mengaitkan dirinya ke organisasi tertentu dan sasaran-sasarannya, dan berharap mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Tingkat komitmen organisasi seorang individu merupakan indikator yang lebih baik mengenai pengunduran diri karyawan daripada indikator kepuasan kerja yang lebih sering digunakan.
Teori sikap kerja:
Menurut Robbins (2007), sikap adalah pernyataan-pernyataan evaluatif – baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan – mengenai obyek, orang atau peristiwa. Tiga komponen sikap, antara lain: kognitif, afektif dan perilaku. Komponen kognitif sikap adalah segmen pendapat atau keyakinan dari sikap. Komponen afektif sikap adalah segmen emosional atau perasaan dari sikap. Komponen perilaku sikap adalah maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu.
Tipe-tipe sikap yang dibahas pada perilaku organisasi, antara lain: kepuasan kerja, keterlibatan dan komitmen pada organisasi. Istilah kepuasan kerja merujuk ke sikap umum individu terhadap pekerjaannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukkan sikap yang positif terhadap pekerjaan itu; seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap yang negatif terhadap pekerjaan itu.
Keterlibatan kerja merupakan tingkat dimana seseorang mengaitkan dirinya ke pekerjaannya, secara aktif berpartisipasi di dalamnya, dan menganggap kinerjanya penting bagi nilai-nilainya. Karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dengan kuat mengaitkan dirinya ke jenis kerja yang dilakukan dan benar-benar peduli dengan jenis kerja itu.
Komitmen pada organisasi adalah tingkat dimana karyawan mengaitkan dirinya ke organisasi tertentu dan sasaran-sasarannya, dan berharap mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Tingkat komitmen organisasi seorang individu merupakan indikator yang lebih baik mengenai pengunduran diri karyawan daripada indikator kepuasan kerja yang lebih sering digunakan.
7. Perilaku Karyawan
Perilaku adalah tingkah laku yang
terdiri atas tingkah laku yang tidak dapat dari luar, misalnya keinginan untuk
pindah (intent to leave) dan ada yang dengan jelas dilihat dari luar, misalnya
perputaran tenaga kerja dan ketidakhadiran.
Dari
teori dapat diketahui bahwa ketidakpuasan atau kepuasan yang rendah akan
meningkatkan perputaran tenaga kerja dan ketidakhadiran. Konsep-konsep ini
paling sering digunakan untuk memahami semangat kerja karyawan (Talacchi,
1960). Berikut diuraikan cara pengukurannya.
1. Perputaran Tenaga
Kerja
Alat
ukur yang digunakan untuk mengukur perputaran tenaga kerja sudah pernah dbahas
dalam bab sebelumnya dimana datanya dapat diperoleh dari bagian personalia,
namun karena untuk memperoleh data dari masing-masing karyawan yang dijadikan
responden dalam penelitian pada umumnya sukar untuk diperoleh, maka untuk itu
digunakan konsep perilaku yang tidak langsung dapat dilihat yaitu keinginan
untuk pindah (intent to leave).
2. Keinginan untuk
Pindah
Keinginan
untuk pindah dapat diukur dengan mengembangkan pertanyaan yang dikemukakan oleh
Hom and Griffeth, 1991; 1995; Motowildo, 1983, yaitu sebagai berikut.
· I
have been thingking about quitting the present job.
· I
have been evaluating the cost of quitting my job.
· I
intent to quit
· I
will quit my job uin the next six months.
3. Ketidakhadiran
Dari
urain sebelumnya dapat diketahui bahwa ketidakhadiran adalah kegagalan untuk
hadir ditempat kerja pada hari kerja. Faktor-faktor penyebab perilaku ini
banyak diteliti karena dapat mempengaruhi prestasi kerja.
4. Hubungan
Ketidakhadiran dengan Kepuasan Kerja
Penelitian tentang hubungan
ketidakpuasan dengan ketidakhadiran adalah rumit. Pandangan tradisional
mengemukakan bahwa ketidakhadiran disebabkan oleh ketidakpuasan (Porter and
Steers, 1973), namun kemudian para peneliti mengemukakan bahwa ketidakhadiran
yang menyebabkan ketidakpuasan kerja (Goodman and Atkin, 1984; Rhodes and
Steers, 1990). Sehingga akhirnya ada pula yang mengemukakan bahwa hubungannya
timbal balik (Clegg, 1983) dimana ia berpendapat bahwa dengan menggunakan
beberapa pengujian yang berkelanjutan (few longitudinal test) ditemukan
bahwa ketidakhadiran lebih sering mempengaruhi ketidakpuasan dan tidak
sebaliknya.
5. Hubungan
Ketidakhadiran dengan Prestasi Kerja
Selain
dengan kepuasan kerja, ketidakhadiran juga mempunyai hubungan yang negatif
dengan prestasi kerja. Bycio (1992) mengemukakan bahwa ketidakhadiran
dapat mengakibatkan rendahnya kinerja.
6. Hubungan
Ketidakhadiran dengan Gaya Kepemimpinan
John dan Nicholson (1982)
mengemukakan bahwa ketidakhadiran dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan terhadap
ketidakhadiran itu. Para pemimpin akan memberikan sanksi pada karyawan yang
jarang masuk dan akan mengurangi pemberian penghargaan kepada mereka.
7. Pengaruh
Karakteristik Individu dan Kerumitan Pekerjaan Terhadap Hubungan Kepuasan Kerja
dengan Ketidakhadiran, Prestasi Kerja dan Gaya Kepemimpinan.
Hubungan
antara kepuasan kerja dengan ketidakhadiran pada umumnya dapat dipengaruhi oleh
karakteristik individu, misalnya usia dan masa kerja (Nicholson, 1977),
kerumitan pekerjaan (House dan Mitchell, 1974), dan gaya kepemimpinan (Clegg,
1983). Gaya kepemimpinan yang mendukung (supportive leadership) dapat
menurunkan ketidakhadiran bagi pekerjaan yang sederhana dibandingkan dengan
yang rumit.
8. Alat ukur yang
Digunakan
Terlepas
dari apakah sebagai penyebab atau sebagai akibat, ketidakhadiran, sebagaimana
halnya dengan keinginan untuk pindah, konsep ini juga perlu diukur dengan
sejumlah pertanyaan jika data ketidakhadiran dari masing-masing responden sulit
untuk diperoleh.
Hammer
dan Landau, 1982; Harisson dan Hulin, 1989 mengukur ketidakhadiran dengan
menggunakan tiga macam data, yaitu:
1)
Waktu yang hilang (jumlah jam ketidakhadiran yang tidak dicatat)
2)
Frekuensi (jumlah waktu ketidakhadiran yang tidak tercatat)
3)
Ketidakhadiran yang tercatat (jumlah ketidakhadiran), data yang
dipakai adalah data selama 12 bulan.
8. Semangat kerja
Semangat kerja
Anda adalah induk dari segala sukses yang menghubungkan semua potensi unggul
anda dalam melakukan kegiatan penyuluhan menghasilkan kinerja optimal sehinggap
tujuan dari penyuluhan bisa tercapai. Tanpa semangat kerja, Anda akan merasa
tidak efektif untuk melangkah ke arah kerja yang harus Anda selesaikan. Setiap
orang pada dasarnya bersifat tidak konsisten dengan dirinya sendiri, hal ini
akan terlihat dari fluktuasi semangat seseorang yang selalu turun naik.
Kadangkala
semangat seseorang bisa berada di puncak kepercayaan diri yang sangat tinggi,
tapi kadangkala semangat itu bisa berada di dasar yang paling rendah, yang
membuat rasa percaya diri itu hilang. Manusia itu memang unik, sehebat apapun
seseorang dengan kekuatan motivasi dan kepercayaan dirinya, pasti akan ada hari
- hari yang membuat orang tersebut merasa kehilangan semua semangat kerjanya.
Untuk bisa
menjaga dan merawat semangat kerja Anda secara konsisten dan stabil adalah
sangat sulit, sebab dibutuhkan mental yang sangat terlatih oleh pengalaman
hidup dengan berbagai macam situasi dan kondisi, tapi belum tentu setiap orang
memiliki kesempatan untuk belajar tentang makna hidup dari realitas perjalanan
hidupnya.
Semangat adalah
kata yang mengalirkan energi sukses dari satu titik darah ke titik darah
berikutnya secara bersambung dan terus - menerus dalam diri seseorang.
Bayangkan, apa jadinya hidup Anda bila tidak didasari oleh semangat hidup dan
semangat kerja yang tinggi, mungkin Anda hanya akan menjadi makhluk yang hidup
merayap di planet bumi ini, tanpa mampu berbuat apa - apa sampai hari akhir
menjemput. Semangat itu harus dirawat dan dijaga, agar Anda bisa mencapai semua
mimpi, harapan, dan keinginan Anda secara optimal. Cobalah renungkan sejenak
tentang betapa pentingnya semangat kerja yang stabil dan konsisten dalam
melakukan penyuluhan sosial dan membawa hidup Anda menuju keberhasilan.
Menurut Burhanuddin (1994:271)
semangat kerja atau ”morale” adalah "Kepuasan secara keseluruhan yang
diperoleh seseorang dari pekerjaanya, kelompok kerja, pimpinan organisasi dan
lingkungannya”. Hal senada juga disampaikan oleh Nitisimito, semangat kerja
adalah "Melakukan pekerjaan secara lebih giat, sehingga dengan demikian
pekerjaan akan diharapkan lebih cepat dan lebih baik”. Sedangkan kegairahan
adalah "Kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan”. Ini
berarti bahwa dengan meningkatnya semangat dan kegairahan kerja, pekerjaan akan
lebih cepat diselesaikan, absensi akan dapat diperkecil, kemungkinan
kepindahanpun kecil terjadi. Semua ini juga mengandung arti bahwa cepat dan
baiknya pekerjaan ditentukan oleh semangat kerja yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Robbins, Stephen P. Perilaku
Organisasi Buku 1, 2007, Jakarta: Salemba Empat, hal. 92-102.
